Selasa, 22 November 2011

NUTRISI AGAR BEBAS JERAWAT






    Menurut redaksi (2006:32), anda selamanya akan mengalami alergi jika pola makan tidak segera diperbaiki, karena alergi hanya gejala yang menandakan sistem imun anda rendah. Turunnya sistem imunn  hanya sebagian dari akibat pola makan yang kurang baik. Pola makan  buruk  menyebabkan metabolismiu tidak  lancer dan meninggalkan tumpukan toksin dalam tubuh. Efek toksin pada kesehatan muncul setelah bertahun-tahun kemudian. Seharusnya anda tidak perlu heran mengapa setelah usia tigapuluhan kulit anda harus bermasalah. Pola makan yang buruk, setelah bertahun-tahun akan mengakibatkan sistem pembuangan tidak bekerja efesien dan optimal.                                                                                                                                                                     
    Menurut redaksi (2006:32), anda tidak perlu takut menjadai kurus dengan Food Combining (FC), karena FC bukan diet untuk menurunkan berat badan. Anda tetap bias makan kenyang dengan kalori rendah karena sebagian besar makanan adalah makanan alami berkalori rendah seperti buah dan sayaur segar.
    Menurut redaksi (2006:32), FC memperbaiki keseimbangan metabolisme. Jika terjadi penurunan berat badan sifatnya hanya sementara, karena dengan FC yang berkurang adalah bobot toksinnya. Mereka yang gemuk, lemaknya akan berkurang dengan sendirinya setelah toksin keluar. Setelah sistem tubuh anda baik atau lancer kembali, berat badan ideal akan pulih dengan sendirinya. Jika anda cukup disiplin dan konsisten dengan FC, dalam dua minggu sudah tampak perbaikan pada kulit anda. Khusus program FC untuk anda, kurangi makan gorengan, santan, gula dan makanan manis lainnya (selain buah segar), terigu dan semua produk olahannya termasuk roti dan biskuit. Secara berkala, misalnya dua bulan sekali, sebaiknya anda melakukan detoksifikasi dengan jus buah dan sayuran segar. Ini akan membuat kulit lebih sehat, muda, dan bercahaya.
Redaksi. 2006. “NUTRISI AGAR BEBAS JERAWAT”. Dalam NIRMALA, Mei 2006. Denpasar.


TEH UNTUK KESEHATAN



Teh merupakan tanaman daerah tropis dan subtropis yang secara ilmiah dikenal dengan Camellia Sinensis. Dari kurang lebih 3000 jenis teh hasil perkawinan silang, didapatkan 3 macam teh hasil proses, yaitu teh hijau, teh oolong, dan teh hitam. Cara pengolahan teh yaitu dengan merajang daun teh dan dijemur di bawah sinar matahari sehingga mengalami perubahan kimiawi sebelum dikeringkan. Perlakuan tersebut akan menyebabkan warna daun menjadi coklat dan memberi cita rasa teh hitam yang khas.
Teh hijau, jenis teh tertua, amat disukai terutama oleh masyarakat Jepang dan Cina. Di sini daun teh mengalami sedikit proses pengolahan, hanya pemanasan dan pengeringan sehingga warna hijau daun dapat dipertahankan. Sedangkan teh oolong lebih merupakan jenis peralihan antara teh hitam dan teh hijau. Ketiga jenis teh masing-masing memiliki khasiat kesehatan karena mengandung ikatan biokimia yang disebut polyfenol, termasuk di dalamnya flavonoid. Flavonoid merupakan suatu kelompok antioksidan yang secara alamiah ada di dalam sayur-sayuran, buah-buahan, dan minuman seperti teh dan anggur.
Subklas polifenol meliputi flavonol, flavon, flavanon, antosianidin, katekin, dan biflavan. Turunan dari katekin seperti epi-cathecin (EC), epigallo-cathecin (EGC), epigallo-cathecin gallate (EGCg), dan quercetin umumnya ditemukan di dalam teh. EGCg dan quercetin merupakan anti oksidan kuat dengan kekuatan hingga 4-5 kali lebih tinggi dibandingkan vitamin E dan C yang juga merupakan antioksidan potensial. Antioksidan diketahui mampu menghindarkan sel dari kerusakan mengingat setiap kerusakan sel akan menyumbang lebih dari 50 penyakit.
Teh hijau mengandung EGCg, demikian juga teh hitam, demikian dikatakan seorang ahli biokimia. Dalam sebuah studi yang dilakukan peneliti Belanda menyebutkan, mengkonsumsi 4-5 cangkir teh hitam setiap hari akan menurunkan resiko stroke hingga 70% dibanding dengan mereka yang mengkonsumsi teh 2 cangkir sehari atau kurang. Laporan lainnya menyebutkan lebih banyak mengkonsumsi teh hitam berhubungan dengan rendahnya kasus serangan jantung. John Folts, Direktur Sekolah Medis, Pusat Penelitian dan Pencegahan Arteri Trombosis, Universitas Wisconsin, AS menemukan kunci khasiat dalam teh yaitu flavonoid. Hasil penelitiannya menunjukkan, flavonoid dalam teh hitam mampu menghambat penggumpalan sel-sel platelet darah sehingga mencegah penyumbatan pembuluh darah pada penyakit hantung koroner dan stroke. Studi lain menyebutkan bahwa peminum teh fanatik memiliki kadar kolesterol dan tekanan darah yang rendah, meskipun masih belum jelas apakah semuanya itu langsung disebabkan karena teh.
Para peneliti di Universitas Case Western Reserve, Cleveland, AS menemukan pengaruh penggunaan teh hijau pada kulit hingga 90 %. Ternyata teh sangat efektif melindungi kulit dari sinar matahari yang dapat mengakibatkan kanker kulit. Teh juga diketahui mengandung fluoride yang dapat menguatkan email gigi dan membantu mencegah kerusakan gigi. Dalam suatu studi laboratorium di Jepang, para ahli menemukan bahwa teh membantu mencegah pembentukan plak gigi dan membunuh bakteri mulut penyebab pembengkakan gusi.
Penelitian di Jepang menunjukkan, daerah penghasil teh yang pendudukanya terkenal sebagai peminum teh fanatik, sangat rendah angka kematiannya yang disebabkan oleh kanker. Hasil studi lainnya, dilakukan kerjasama antara tim peneliti Oguni dan pusat penelitian kanker di Beijing untuk mempelajari pengaruh ekstrak teh hijau pada tikus yang telah diberi ransum makanan karsinogenik (zat pemicu kanker). Dilaporkan, angka rata-rata kanker pada tikus yang memperoleh ekstrak teh hijau setengah dari tikus yang tidak memperoleh ekstrak teh hijau.
Para peneliti yakin bahwa polifenol yang dikenal sebagai cathecin yang terdapat pada teh hijau, membantu tubuh manusia melawan sel kanker. Studi lainnya dilakukan oleh Oguni dan Dr. Masami Yamada dari Hamamatsu Medical Center menemukan cathecin membunuh Helicobator pylori, bakteri pemicu kanker lambung.
 

















 REFRENSI:
http://www.angelfire.com/mt/matrixs/kesehatan.htm

NYERI DAN KENYAMANAN

APA ITU NYERI ?
Mengapa perawat harus memperhatikan nyeri yang dialami oleh kliennya?

•          Suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan yang sudah atau berpotensi terjadi…(international Association for Study of Pain (IASP)
•          Suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007)

SIFAT NYERI
•          Melelahkan
•          Subyektif dan individual
•          Perawat hanya dapat mengkaji nyeri pasien dengan melihat perubahan fisiologis tingkah laku dan dari pernyataan klien
•          Hanya klien yang mengetahui kapan nyeri timbul dan seperti apa rasanya
•          Merupakan mekanisme pertahanan fisiologis
•          Merupakan tanda peringatan adanya kerusakan jaringan
•          Mengawali ketidakmampuan
•          Persepsi yang salah tentang nyeri menyebabkan manajemen nyeri jadi tidak optimal

TIPE STIMULUS NYERI
1. Mechanical
•          Trauma to body tissue (surgery)
•          Alterations in body tissues (edema)
•          Blockage of a body duAct
•          Tumor
•          Muscle spasm
2. Thermal
•          Extreme heat or cold (burn)
3. Chemical
•          Tissue ischemia (blocked coronary artery)


JARAS NYERI
•          Nosiseptor (saraf aferen primer untuk menerima dan menyalurkan rangsangan nyeri)
•          Serabut saraf aferen (serabut A-delta dan serabut C)
•          Medula spinalis
•          Serabut saraf asenden
•          Serabut saraf desenden
•          Kortek serebri

TIPE SERABUT SARAF PERIFER
     Serabut saraf A-delta
  1. Merupakan serabut bermyelin
  2. Mengirimkan pesan secara cepat
  3. Menghantarkan sensasi yang tajam, jelas sumber dan lokasi nyerinya
  4. Reseptor berupa ujung-ujung saraf bebas di kulit dan struktur dalam seperti,otot tendon dll
  5. Biasanya sering ada pada injuri akut
  6. Diameternya besar
            Serabut saraf C
  1. Tidak bermyelin
  2. Lambat dalam menghantarkan impuls
  3. Menghantarkan sensasi berupa sentuhan, getaran, suhu hangat, dan tekanan halus
  4. Lokasinya jarang, biasanya dipermukaan dan impulsnya bersifat persisten
  5. Reseptor terletak di struktur permukaan
Diameternya sangat keci

FISIOLOGI NYERI
Mekanisme nyeri


MODULASI
•          Descending system
•          Neurons in the thalamus and brain stem back down à Dorsal horn (Spinal cord)
•          Descending system àà substances (serotonin, endogenous opioids, epinephrin) which can inhibit the ascending noxious impulses in the dorsal horn




TIPE NYERI
Berdasar Letaknya
•          Nyeri somatik superficial (kulit)
•          Nyeri somatik dalam
•          Nyeri visceral
•          Nyeri alih
•          Nyeri neuropati

Berdasar Durasinya
•          Nyeri akut
•          Nyeri kronik




TANDA-TANDA NYERI
Stimulasi Simpatik
•          Dilatasi saluran bronkhial dan peningkatan respirasi rate
•          Peningkatan heart rate
•          Vasokonstriksi perifer, peningkatan BP
•          Peningkatan nilai gula darah
•          Diaphoresis
•          Peningkatan kekuatan otot
•          Dilatasi pupil
•          Penurunan motilitas GI
Stimulus Parasimpatik
•          Muka pucat
•          Otot mengeras
•          Penurunan HR dan BP
•          Nafas cepat dan irregular
•          Nausea dan vomitus
•          Kelelahan dan keletihan



Respon Tingkah Laku
Pernyataan verbal
                Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas, Mendengkur
Ekspresi wajah
                Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir
Gerakan tubuh
                Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan gerakan jari & tangan
Kontak dengan orang lain/interaksi sosial
                Menghindari percakapan, Menghindari kontak sosial, Penurunan rentang perhatian, fokus pd aktivitas menghilangkan nyeri

Pengalaman NYERI

Fase pengalaman nyeri (Meinhart & McCaffery)
        • Fase antisipasi (terjadi sebelum nyeri diterima)
        • Fase sensasi (terjadi saat nyeri terasa)
§   Fase akibat / aftermath (terjadi ketika nyeri berkurang atau           \
Bersih)




refensi   

•          Kozier, B., Erb, G & Oliveri, R. (1996). Fundamentals of Nursing: Concepts, Process Practice. (4th Ed.) California: Addison-W
•          Potter, A.G.& Potter, A.G. (1997). Fundamental of  nursing : concepts,process & practice. (4th ed). St.Louis : Mosby-Year Book
•          Prince, Sylvia Anderson.(2002).Pathophysiology:Clinical Concepts of Disease Processes.Ed.6.Jakarta:EGC


PENYAKIT HERPEZ

A.    DEFINISI
Penyakit kulit herpes terdiri dari :            
a.       Herpes Zorter
b.      Herpes simpleks
 (Pro.dr. Adhi Juwanda, 1999 : 107)


gambar 1 1

a.       Herpez Zorter
Herpez Zorter adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varisela. Zorter yang menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini merupakan aktivitas virus yang terjadi setelah infeksi primer. (Prof.dr.Adhi Juwanda, 1999:107)
b.      Herpez Simpleks
Herpes Simpleks adalah penyakit kulit/selaput lendir yang disebabkan oleh virus. (Prof. Dr. Maswali Harahap, 2000 : 88)

B.     ETIOLOGI
c.       Herpez Zoster disebabkan oleh VaricellaZoster Virus (VZV). Infeksiositas virus ini dengan cepat dapat dihancurkan oleh bahan organik, deterjen, enzim preeolitik, panas dan PH tinggi (prof. dr. Marwali Harahap, 2000 : 92)
d.      Herpez Simpleks (VHS) disebabkan oleh virus Herpez Simpleks berdasarkan struktur antigeniknya dikenal 2 tipe virus herpes simpleks :
1.      VHS tipe I
Penyakit kulit/selaput lendir yang ditimbulkan biasanya disebut herpes simpleks saja, atau dengan nama herpes labialis, herpes febrilis. Lesi umumnya dijumpai pada tubuh bagian atas.
2.      VHS tipe II





gambar 1 2



C.    PATOFISIOLOGI
Herpez zoster disebabkan oleh varicello zoster (VZV). Selama terjadinya infeksi varisela, VZV meninggalkan lesi dikulit dan permukaan mukosa ke ujung serabut saraf sensorik. Kemudian secara sentripetal virus ini dibawa melalui serabut saraf sensorik. Dalam ganglion ini, virus memasuki masa laten dan disini tidak infeksios dan tidak mengadakan multiplikasi lagi, namun tidak berarti ia kehilangan daya infeksinya.
Bila daya tahan tubuh penderita mengalami manurun, akan terjadi reaktivasi virus. Virus mengalami multiplikasi dan menyebar di dalam ganglion. Ini menyebabkan nekrosis pada saraf serta menjadi inflamasi yang berat dan biasanya disertai nevralgia yang hebat.
VZV yang infeksius ini mengikuti serabut saraf sensorik/sehingga terjadi neuritis. Neuritis ini berakhir pada ujung serabut saraf sensorik dikulit dengan gambaran erupsi yang khas untuk erupsi horpes zoster.
1.      Neurologi pasca herfetike
Rasa nyeri yang timbul pada daerah bekas penyembuhan neuralgia ini dapat berlangsung berbulan-bulan sampai beberapa tahun.
2.      Infeksi sekunder
Oleh bakteri akan menyebabkan terhambatnya penyembuhan dan akan meninggalkan bekas sebagai sikatritis.
3.      Pada sebagian kecil penderita dapat terjadi paralysis motorik, terutama bila virus juga menyerang ganglion anterior bagian motorik kranialis. Terjadi biasanya 2 minggu setelah timbul erupsi.
(Prof. dr. Marwali Harahap, 2000 :93)

Penyakit ditularkan melalui hubungan seksual lokalisasi lesi umumnya adalah bagian tubuh dibawah pasar, terutama daerah genetaira. Lesi extra genital dapat pula terjadi akibat hubungan sexual orogenital.
(Prof.dr. Marwali Harapap, 2000 :88)
D.    MANIFESTASI KLINIS
a. Herpez Zorter
3.      Gejala prodromal sistematik (demam, pusing, malese) maupun gejala prodomal local (nyeri otot tulang, gatal, pegal).
4.      Setelah itu timbul eritema yang dalam waktu singkat menjadi vesikel yang berkelompok, vesikel ini berisi cairan yang jernih kemudian menjadi keruh (berwarna abu-abu) dapat menjadi pustule dan krusta. (Prof. dr. Adhi Juwanda, 199:107).
5.      Gambaran yang khas pada herpes zoster adalah erupsi yang lokalisata dan hamper selalu unilateral.
Menurut daerah penyerangnya dikenal :
a.       Herpes zorter of taimika : menyerang dahi dan sekitar mata
b.      Herpes zorter servikali    : menyerang pundak dan lengan
c.       Herpes zorter torakalis    : menyerang dada dan perut
d.      Herpes zorter lumbalis    : menyerang bokong dan paha.
e.       Herpes zorter sakralis      : menyerang sekitar anus dan getalia
f.       Herpes zorter atikum       : menyerang telinga.
(Prof. dr. Marwali Harahap, 2000 : 92)
b. Herpez Simpleks
Ada 2 bentuk manifestasi klinik berdasarkan pernah tidaknya penderita berkontak dengan virus ini sebelumnya :
                                  i.      Belum pernah kontak dengan virus.
Penderita tidak mempunyai imunitas dan akan terjadi infeksi primer yang khas ditandai dengan rasa sakit pada vesikel-vesikel dan erosi pada kulit dan selaput lendir yang terkena. Infeksi primer ini berlangsung 2 – 6 minggu hingga terjadi penyembuhan secara spontan.
                                ii.      Sudah pernah kontak dengan virus.
Penderita akan mengalami infeksi kambuhan (rekuren) lesi pada infeksi tumbuhan ini lebih kecil dan lebih sedikit tidak begitu terasa sakit dan hanya berlangsung 5-7 hari.
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kekambuhan antara lain :
1.      Keletihan fisik
2.      Stress psikis
3.      Minuman alcohol
4.      Trauma waktu koltas
(Prof. dr. Marwali Harahap, 2000 : 89)

E.     PENATALAKSANAAN (MEDIS DAN KEPRAWATAN)
Penatalaksaan herpes zoster bertujuan untuk:
1.    Mengatasi infeksi virus akut
2.    Mengatasi nyeri akut yang ditimbulkan oleh virus herpes zoster
3.    Mencegah timbulnya neuralgia pasca herpetik.

F.     PENCEGAHAN.
Untuk mencegah terjangkitnya penyakit herpes maka sebaiknya anda melakukan beberapa hal berikut:
  1. Menjaga kebersihan organ genetalia atau alat kelamin pria dan wanita
  2. Melakukan vaksinasi/imunisasi. Pada anak sehat usia 1 – 12 tahundiberikan satu kali. Imunisasi dapat diberikan satu kali lagi pada masa pubertas untuk memantapkan kekebalan menjadi 60 persen – 80 persen. Setelah itu, untuk menyempurnakannya, berikan imunisasi sekali lagi saat dewasa. Kekebalan yang didapat ini bisa bertahan sampai 10 tahun.
  3. gunakan jarum suntik yang baru jika anda sdang dalam proses yang mengharuskan menggunakan jarum suntik.
  4. Hindari kontak langsung dengan penderita PMS
  5. Hindari sex bebas atau bergonta-ganti pasangan.

2. ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian :
1.        Aktifitas / istirahat : perubahan aktifitas
2.        Nyeri : ketidaknyamanan, nyeri, Gatal.
3.        Keamanan : takut, ansietas

b. Diagnosis Keperawatan

1.    Risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit.
2.    Nyeri dan rasa gatal berhubungan dengan lesi kulit.
3.    Gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus.
4.    Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak bagus.
5.    Kurang pengetahuan tentang program terapi berhubungan dengan inadekuat informasi.

c. Tujuan Intervensi/Implementasi

Tujuan askep Herpes Zoster adalah terpeliharanya integritas kulit, meredakan gangguan rasa nyaman: nyeri, tercapainya tidur yang nyenyak, berkembangnya sikap penerimaan terhadap diri, diperolehnya pengetahuan tentang perawatan kulit dan tidak adanya komplikasi.

1. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit.
1.1. Lindungi kulit yang sehat dari kemungkinan maserasi (hidrasi stratum korneum yg berlebihan) ketika memasang balutan basah.
Rasional: Maserasi pada kulit yang sehat dapat menyebabkan pecahnya kulit dan perluasan kelainan primer.
1.2. Hilangkan kelembaban dari kulit dengan penutupan dan menghindari friksi.
Rasional: Friksi dan maserasi memainkan peranan yang penting dalam proses terjadinya sebagian penyakit kulit.
1.3.  Jaga agar terhindar dari cidera termal akibat penggunaan kompres hangat dengan suhu terlalu tinggi & akibat cedera panas yg tidak terasa (bantalan pemanas, radiator).
Rasional: Penderita dermatosis dapat mengalami penurunan sensitivitas terhadap panas.
1.4.       Nasihati klien untuk menggunakan kosmetik dan preparat tabir surya.
Rasional: Banyak masalah kosmetik pada hakekatnya semua kelainan malignitas kulit dapat dikaitkan dengan kerusakan kulit kronik.

Kriteria keberhasilan implementasi.

1. Mempertahakan integritas kulit.
2. Tidak ada maserasi.
3. Tidak ada tanda-tanda cidera termal.
4. Tidak ada infeksi.
5. Memberikan obat topikal yang diprogramkan.
6. Menggunakan obat yang diresepkan sesuai jadwal.


2. Nyeri dan rasa gatal berhubungan dengan lesi kulit.
2.1. Temukan penyebab nyeri/gatal
Rasional: Membantu mengidentifikasi tindakan yang tepat untuk memberikan kenyamanan.
2.2. Catat hasil observasi secara rinci.
Rasional: Deskripsi yang akurat tentang erupsi kulit diperlukan untuk diagnosis dan pengobatan.
2.3. Antisipasi reaksi alergi (dapatkan riwayat obat).
Rasional: Ruam menyeluruh terutama dengan awaitan yang mendadak dapatmenunjukkan reaksi alergi obat.
2.4. Pertahankan kelembaban (+/- 60%), gunakan alat pelembab.
Rasional: Kelembaban yang rendah, kulit akan kehilangan air.
2.5. Pertahankan lingkungan dingin.
Rasional: Kesejukan mengurangi gatal.
2.6. Gunakan sabun ringan (dove)/sabun yang dibuat untuk kulit yang sensitive
Rasional: Upaya ini mencakup tidak adanya detergen, zat pewarna.
2.7. Lepaskan kelebihan pakaian/peralatan di tempat tidur
Rasional: Meningkatkan lingkungan yang sejuk.
2.8. Cuci linen tempat tidur dan pakaian dengan sabun.
Rasional: Sabun yang "keras" dapat menimbulkan iritasi.
2.9. Hentikan pemajanan berulang terhadap detergen, pembersih dan pelarut.
Rasional: Setiap subtansi yang menghilangkan air, lipid, protein dari epidermis akan mengubah fungsi barier kulit
2.10. Kompres hangat/dingin.
Rasional: Pengisatan air yang bertahap dari kasa akan menyejukkan kulit dan meredakan pruritus.
2.11. Mengatasi kekeringan (serosis).
Rasional: Kulit yang kering meimbulkan dermatitis: redish, gatal.lepuh, eksudat.
2.12. Mengoleskan lotion dan krim kulit segera setelah mandi.
Rasional: Hidrasi yang cukup pada stratum korneum mencegah gangguan lapisan barier kulit.
2.13. Menjaga agar kuku selalu terpangkas (pendek).
Rasional: Mengurangi kerusakan kulit akibat garukan
2.14. Menggunakan terapi topikal.
Rasional: Membantu meredakan gejala.
2.15. Membantu klien menerima terapi yang lama.
Rasional: Koping biasanya meningkatkan kenyamanan.
2.16. Nasihati klien untuk menghindari pemakaian salep /lotion yang dibeli tanpa resep Dokter.
Rasional: Masalah klien dapat disebabkan oleh iritasi/sensitif karena pengobatan sendiri

Kriteria keberhasilan implementasi.

1. Mencapai peredaan gangguan rasa nyaman: nyeri/gatal.
2. Mengutarakan dengan kata-kata bahwa gatal telah reda.
3. Memperllihatkan tidak adanya gejala ekskoriasi kulit karena garukan.
4. Mematuhi terapi yang diprogramkan.
5. Pertahankan keadekuatan hidrasi dan lubrikasi kulit.
6. Menunjukkan kulit utuh dan penampilan kulit yang sehat .

 Gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus.
3.1. Nasihati klien untuk menjaga kamar tidur agar tetap memiliki ventilasi dan kelembaban yang baik.
Rasional: Udara yang kering membuat kulit terasa gatal, lingkungan yang nyaman meningkatkan relaksasi.
3.2.  Menjaga agar kulit selalu lembab.
Rasional: Tindakan ini mencegah kehilangan air, kulit yang kering dan gatal biasanya tidak dapat disembuhkan tetapi bisa dikendalikan.
3.3.  Mandi hanya diperlukan, gunakan sabun lembut, oleskan krim setelah mandi.
Rasional: memelihara kelembaban kulit
3.4. Menjaga jadual tidur yg teratur.
3.5. Menghindari minuman yang mengandung kafein menjelang tidur.
Rasional: kafein memiliki efek puncak 2-4 jam setelah dikonsumsi.
3.6.   Melaksanakan gerak badan secara teratur.
Rasional: memberikan efek menguntungkan bila dilaksanakan di sore hari.
3.7.   Mengerjakan hal ritual menjelang tidur.
Rasional: Memudahkan peralihan dari keadaan terjaga ke keadaan tertidur.

Kriteria Keberhasilan Implementasi

1. Mencapai tidur yang nyenyak.
2. Melaporkan gatal mereda.
3. Mempertahankan kondisi lingkungan yang tepat.
4. Menghindari konsumsi kafein.
5. Mengenali tindakan untuk meningkatkan tidur.
6. Mengenali pola istirahat/tidur yang memuaskan.

4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak bagus.
4.1. Kaji adanya gangguan citra diri (menghindari kontak mata,ucapan merendahkan diri sendiri.
Rasional: Gangguan citra diri akan menyertai setiap penyakit/keadaan yang tampak nyata bagi klien, kesan orang terhadap dirinya berpengaruh terhadap konsep diri.
4.2.   Identifikasi stadium psikososial terhadap perkembangan.
Rasional: Terdapat hubungan antara stadium perkembangan, citra diri dan reaksi serta pemahaman klien terhadap kondisi kulitnya.
4.3. Berikan kesempatan pengungkapan perasaan.
Rasional: klien membutuhkan pengalaman didengarkan dan dipahami.
4.4. Nilai rasa keprihatinan dan ketakutan klien, bantu klien yang cemas mengembangkan kemampuan untuk menilai diri dan mengenali masalahnya.
Rasional: Memberikan kesempatan pada petugas untuk menetralkan kecemasan yang tidak perlu terjadi dan memulihkan realitas situasi, ketakutan merusakadaptasi klien .

4.5. Dukung upaya klien untuk memperbaiki citra diri , spt merias, merapikan.
Rasional: membantu meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi.
4.6. Mendorong sosialisasi dengan orang lain.
Rasional: membantu meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi.

Kriteria Keberhasilan Implementasi
1. Mengembangkan peningkatan kemauan untuk menerima keadaan diri.
2. Mengikuti dan turut berpartisipasi dalam tindakan perawatan diri.
3. Melaporkan perasaan dalam pengendalian situasi.
4. Menguatkan kembali dukungan positif dari diri sendiri.
5. Mengutarakan perhatian terhadap diri sendiri yang lebih sehat.
6. Tampak tidak meprihatinkan kondisi.
7. Menggunakan teknik penyembunyian kekurangan dan menekankan teknik untuk meningkatkan penampilan

5. Kurang pengetahuan tentang program terapi
5.1.   Kaji apakah klien memahami dan salah mengerti tentang penyakitnya.
Rasional: memberikan data dasar untuk mengembangkan rencana penyuluhan
5.2.   Jaga agar klien mendapatkan informasi yang benar, memperbaiki kesalahan konsepsi/informasi.
Rasional: Klien harus memiliki perasaan bahwa sesuatu dapat mereka perbuat, kebanyakan klien merasakan manfaat.

5.3.   Peragakan penerapan terapi seperti, kompres basah, obat topikal.
Rasional: memungkinkan klien memperoleh cara yang tepat untuk melakukan terapi.
5.4.          Nasihati klien agar kulit teap lembab dan fleksibel dengan tindakan hidrasi dan pengolesan krim serta losion kulit.
Rasional: stratum korneum memerlukan air agar tetap fleksibel. Pengolesan krim/lotion akan melembabkan kulit dan mencegah kulit tidak kering, kasar, retak dan bersisik.
5.5.       Dorong klien untuk mendapatkan nutrisi yang sehat.
Rasional: penampakan kulit mencerminkan kesehatan umum seseorang, perubahan pada kulit menandakan status nutrisi yang abnormal.

Kriteria Keberhasilan Implementasi

1. Memiliki pemahaman terhadap perawatan kulit.
2. Mengikuti terapi dan dapat menjelaskan alasan terapi.
3 Melaksanakan mandi, pembersihan dan balutan basah sesuai program.
4. Menggunakan obat topikal dengan tepat.
5. Memahami pentingnya nutrisi untuk kesehatan kulit.

6.  Mencegah Infeksi
6.1. Miliki indeks kecurigaan yang tinggi terhadap suatu infeksi pada klien yang sistem kekebalannya terganggu.
Rasional: setiap keadaan yg mengganggu imun akan memperbesar risiko infeksi kulit.

6.2. Berikan petunjuk yang jelas dan rinci kepada klien mengenai program terapi.
Rasional: Pendidikan klien yang efektif bergantung pada keterampilan interpesonal profesional kesehatan dan pada pemberian instruksi yang jelas.
6.3. Laksanakan kompres basah sesuai program untuk mengurangi intensitas inflamasi.
Rasional: vasokonstriksi pembuluh darah kulit dapat mengurangi eritema dan membantu debridemen vesikel dan krusta serta mengendalikan inflamasi.
6.4. Sediakan terapi rendaman sesuai program.
Rasional: melepas eksudat dan krusta.
6.5. Berikan antibiotik sesuai order.
Rasional: membunuh dan mencegah pertumbuhan mikroorganisme.
6.6. Gunakan obat topikal yang mengandung kortikosteroid sesuai order.
Rasional: memiliki kerja antiinflamasi, sehingga mampu menimbulkan vasokonstriksi pd pembuluh darah kecil dalam dermis lapisan atas.
6.7. Nasihati klien untuk menghentikan pemakaian setiap obat kulit yang memperburuk masalah.
Rasional: dermatitis kontan atau reaksi alergi dapat terjadi akibat setiap unsur yang ada dalam obat tersebut.

Kriteria Keberhasilan Implementasi
1. Tetap bebas dari infeksi.
2. Mengungkapkan tindakan perawatan kulit yang meningkatkan kebersihan dan mencegah kerusakan kulit.
3. Mengidentifkasi tanda dan gejala infeksi.
4. Mengidentifikasi efek kerugian obat
5. Berpartisipasi dalam tindakan perawatan kulti: ganti balutan, mandi.






DAFTAR PUSTAKA
Djuanda, Adhi. 1999. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. FKUI : Jakarta
Harahap, Marwali.2000. Ilmu Penyakit Kulit. Hipokrates: Jakarta.
Smeitzer, Suzanne C.2001. Buku Ajar Keperawatan Medical-Bedah Brunner & Suddarth. EGC: Jakarta